There are three things I love about the postcard :
1. The picture itself is good
2. The stickers: Turkish Flag and Evil eye protector..
3. His attention to Indonesia and the cirizen, about the earthquake disaster..
Sultan, I really appreciate it <3 <3 <3
The postcard from Gigiamorita.tumblr.com
Sebenernya, aku ga tauu itu di rumah makaan apaaa.. Secara ke Braga cuma pernah ke Bebek Garang, Mie Rica, ama Braga City Walk doang.. ahaha..
If my parents are not satisfied with what I am.. They should hire me a psychiatrist. or just wash my brain to make me forget what I am and make them start building myself again from zero as what they want.
Mum, Dad, when you know what I am is not what you expected, what did you do to remake me? If telling me is not working, if being mad at me is not working, if cursing me is not working, did you think about the other options to remake me to be the way you want?
Lady Gaga In Jakarta - Death Threats.
So this group of people in Jakarta called the Islamic Defenders Front have purchased 150 tickets to Gaga’s venue there, where they plan to do whatever they have to stop the concert.
“We have gotten Lady Gaga tickets, not to watch [the concert] but for us to enter. Whatever will be will be, we’re ready for the risk.”
They also plan to intercept Gaga on her way from the airport if she even sets foot in Jakarta.
are they crazy or what omfg kdfkjlsdkjlf noooo dont hurt gaga ><
-> GOSH! Is this really happening? I’m from Indonesia and this news is the hot news right now.. That the prohibition of gaga is spreading internationally is also reported. But don’t know if it is really happening and that people on tumblr also hear about this.. wkkw..
(Source: gagaatemybrain)
What is the definition of virginity?
Pertanyaan seperti ini sering mengalir di pikiran saya ketika saya agak merenung abis denger cerita tentang cewek yang -katanya sih- udah pernah ML, sampai abis denger cerita seorang kenalan yang lagi hamil. Wakakak, emang dasarnya saya mesum atau apa? But this issue sometimes bothers me..
Mungkin di jaman mamah papah saya, kata “seks” masih jadi hal yang tabu, apalagi kalo sampe dibahas. And the only thing people really concern about is that sex should be done when you are married. But this era? I think it is not taboo anymore. You can talk about it when you are having lunch with your friends, either if you have experienced it or you just hear about how people experience it, and it is said that people could do it everytime, everywhere, with everyone. One thing which is absolutely true, mau di jaman mamah-papah saya, ataupun di jaman sekarang ini, sex does exist, right? Beberapa orang bilang jaman sekarang makin edan karena seks di luar nikah udah mulai booming.. Well, menurut saya bukan berarti jaman dulu orang-orang pada “suci” dan gak ada yang namanya seks di luar nikah. Tapi yang ada adalah orang jaman sekarang lebih terbuka tentang seks, walau masih ada beberapa orang yang masih mengatupkan mulut dan otaknya rapat-rapat dari isu-isu tersebut, atau ada juga yang nutupnya masih setengah-setengah. Things change.
Balik ke issue keperawanan.. Honestly, when the word “losing virginity” comes to my mind, my mind directly connect to the word “making love or having sex” and it plays a scene when a man and a woman is on a bed in which the man is on the top. Ahaha.. Anyway, the signified may be varied among people and contexts.
Berikut ini merupakan poin-point penting yang saya dapat dari artikel Fimela.com berjudul Isu soal keperawanan (2): Kali ini tentang tanda-tandanya! yang ngebahas tentang definisi keperawanan menurut beberapa ahli. I find it is quite enlightening..
“Seorang perempuan dapat dikatakan masih perawan jika organ intimnya belum pernah dimasuki organ intim pria. Demikian pula laki-laki dapat dikatakan perjaka jika belum pernah memasukkan organ intimnya ke dalam organ intim wanita,” jelas Syarif Niskala, penulis buku Agar Seks Tidak Salah Jalan. Jadi, robeknya selaput dara yang bukan disebabkan oleh penetrasi belum tentu mengartikan bahwa keperawanan perempuan sudah terenggut.
Psikolog klinis Lita Gading pun mengungkapkan keperawanan yang selalu dikaitkan dengan aktivitas sosial hanyalah masalah stigma, padahal keperawanan nggak melulu berkaitan dengan seks. Kecelakaan saat berolahraga bisa saja menyebabkan selaput dara robek.
Keperawanan dalam pengertian tradisional, dan yang diterima sebagai batasan universal memang dikatakan hilang saat pertama kali vagina dipenetrasi oleh penis. Seiring kemajuan teknologi, muncul pertanyaan-pertanyaan terkait dengan batas keperawanan. Perempuan yang melakukan seks virtual (cybersex), apakah masih bisa disebut perawan? Lesbian yang nggak pernah berhubungan seksual dengan laki-laki, bisa dianggap perawan? Atau, apa perempuan yang sudah petting masih masuk kategori perawan?
Dono Baswardono, Sarjana Psikologi dan master Kebijakan Publik, menulis beberapa buku khusus membahas tentang keperawanan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Dono pun membagi keperawanan jadi dua, keperawanan fisik dan emosional. Keperawanan fisik punya arti sama dengan keperawanan tradisional, sedangkan keperawanan emosional berarti belum pernah memiliki perasaan rela melepaskan keperawanannya. Dono melihat keperawanan nggak cuma dari segi fisik, tapi juga emosi. Jadi, kamu yang hobi cybersex, petting, maupun para lesbian, masuk dalam kategori sudah nggak perawan menurut Dono.
“Ah, keperawanan cuma formalitas. Intinya buat menyenangkan laki-laki, kan. Kalau cuma begitu bisa diakali dengan operasi. Perawan lagi, deh! Karena aku nggak peduli sama keperawanan, kalau ditanya apa batasan perawan atau nggak ya aku juga nggak tahu. Seperti yang aku bilang tadi, keperawanan cuma formalitas, label. Cuma waktu aja yang membedakan kapan label itu dilepas setelah ‘barang’ laku,” tutur Nindy, freelance writer, 29 tahun. Well, out of the different opinion I and Nindy have, I really appreciate her honesty and boldness of saying her belief out loud.
Is it right to judge a woman by her virginity..?
Fimela.com merupakan situs Indonesian Online Fashion & Lifestyle Magazine favorit saya karena sering membahas tentang isu-isu yang ada di kehidupan manusia, terutama wanita, in an enlightening way. Seperti contohnya cuplikan artikel berikut ini, yang berjudul Isu soal keperawanan (1): Masih Relevankah?. Berikut ini beberapa point yang saya highlight dari artikel tersebut :
“Pacarku memang sudah nggak perawan. Waktu pertama kali dia bilang jujur aku sempat minta break, bahkan menyuruh dia operasi keperawanan karena jujur pikiranku masih konvensional dalam memandang keperawanan. Walaupun aku sendiri sudah nggak perjaka, buatku perempuan baik yang layak jadi pendampingku ya yang masih perawan. Sampai sekarang itu mimpiku, tapi kalau yang nanti jadi jodohku sebaliknya, mau apa lagi selain pasrah.”
Ya, masih banyak laki-laki yang mendambakan pendamping yang masih bisa menjaga keperawanannya, sementara mereka sendiri yang sudah nggak perjaka, nggak mencoba melihat dari sisi yang sama. Itu adalah salah satu bentuk ego laki-laki, tapi nggak lepas juga dari paham tentang keperawanan, yang walaupun memudar masih banyak menyisakan akar yang mau nggak mau terus jadi patokan masyarakat hingga kini. “Yang penting tidak ada penyesalan bahwa satu pihak merasa tertipu. Lebih bagus diungkapkan di awal, dibicarakan saja tanpa ditanya, supaya kalau harus putus, bisa cepat move on. Kejujuran itu on the top,” jelas Mgr. Erita Narheltali S.Psi., Koordinator Program Magister Psikologi Intervensi Sosial FPSI UI.
Masih ingat tentang wacana tes keperawanan siswi SMA di Jambi beberapa waktu lalu? Menurut Komisioner Komnas Perempuan, Neng Dara Affiah, itu justru bentuk politisasi tubuh untuk mencari perhatian masyarakat, tapi sangat merugikan perempuan. Baginya, menghakimi perempuan atas dasar keperawanannya nggak masuk akal. “Tidak ada jaminan, seorang yang tidak perawan berperilaku buruk. Seorang yang perawan juga bukan jaminan berperilaku tidak buruk,” ungkap Neng Dara. Ia menambahkan bahwa persoalan keperawanan yang masih diperbincangkan, bahkan jadi isu, merupakan cerminan masyarakat konservatif dan berwajah patriarki. Keperawanan adalah area privat, hak asasi, dan nggak layak dijadikan patokan atas apa pun, apalagi menghakimi perempuan atas pilihannya menjaga keperawanannya sampai menikah atau mau memberikannya pada orang yang sangat ia cintai, walaupun belum terikat dalam janji pernikahan. Ini pilihan, penting atau nggak mempertahankan keperawanan sepenuhnya jadi hak perempuan untuk menentukan sendiri, lepas dari penilaian masyarakat tentangnya.


